...menakzimi kenangan, menghentikan waktu...
Friday, August 19, 2005
biografi membaca (2)
jawa ternyata memberi segalanya. ketaksetiaanku merajalela di sini. bergaul dengan teman-teman aktivis pergerakan mahasiswa, bacaanku bertambah. dan siapa duga, pengarang-penulis yang sewaktu di sumatra hanya aku baca dan kenal namanya, satu persatu bertemu denganku, beberapa bahkan bercakap dengan mesra.lewat seorang teman, aku mulai membaca bumi manusia pramudya, fotokopian. teman ini mewanti-wanti agar aku membaca dengan sembunyi. "Jika tidak, kamu akan dicap pki," katanya. hanya semalam, buku itu aku tamatkan. dan aku ketagihan. kucari-cari karya pram yang lain, tapi tak pernah bisa menjumpai. buku-bukunya terlarang. kemudian, dengan bantuan teman lagi yang kekasihnya berayahkan seorang atase di malaysia, aku memberanikan diri memesan buku pram, edisi malaysia. karena dengan memakai tas diplomatik-lah (diplomatic bag) karya pram bisa sampai di indonesia tanpa kesukaran. aku mendapatkan semua tetralogi itu, bumi manusia, anak segala bangsa, jejak langkah, dan rumah kaca, dan melahapnya tanpa kesukaran, karena secara bahasa tak ada perbedaan mendasar meskipun karya itu terbit di malaysia. aku jatuh cinta pada minke, nyi ontosoroh, dan pram.
takdir menarikku untuk bertemu dengan pram, di saat justru pengarang ini masih menjadi sosok yang "menakutkan" bagi orde baru. menemuinya di multi karya pun harus sembunyi-sembunyi. padahal, orang yang akan kutemui itu asyik membakar sampah, bersarung, bertelanjang dada. "saya mungkin dianggap musuh bagi negara. tapi semua tetangga di sini menerima saya, tak ada cemas dan was-was," katanya sembari menghembuskan djarum yang lucunya, berlogokan istana negara.
pram punya ingatan yang luar biasa. bertemu kali pertama, kuhabiskan waktu nyaris seharian untuk berbicara, dan wawancara tentang sastra. kusempatkan juga mengiyakan tawaran makan siang bersama, dan mandi sore di kamar atas, ruang kreatifnya. dia bercerita sejarah bahasa indonesia, sejarah islam, dan tentu, "dendamnya" pada penguasa. kupingnya yang pekak membuat kami bercerita setengah berteriak. ketika menunjukkan koleksi bukunya, terutama koran-koran berusia 200 tahun, aku terhenyak. "sewaktu saya diciduk, ribuan buku saya raib, termasuk tumpukan naskah ensklopedia indonesia, yang nyaris setinggi 2 meter. ketika diseret, hanya naskah-naskah itu yang saya pikirkan. sempat saya katakan kepada serdadu yang memimpin pencidukan itu, 'tolong selamatkan naskah saya...' tapi dia hanya tertawa. sampai kini, naskah itu tak pernah kembali. negara berhutang banyak pada saya..." katanya, marah. sebelum pamit, dia menghadiahiku beberapa buku, majalah, dan menandatangani tetralogi itu, dengan pesan, "jangan pernah takut!"
aku bertemu lagi dengannya beberapa kali. lucunya, setelah orde baru jatuh, dan orang bebas menemui dia tanpa lagi rasa takut, aku tak pernah bersua. padahal, ingin rasanya melihat rumah mewahnya di bojonggede, dan hutan kecil, yang selalu dia angankan menjadi kesibukannya selain menimang cucu.
pengarang-pengarang lain kemudian seperti dikirimkan alam untuk bertemu denganku. berbincang dan kediskotek bersama seno gumira ajidarma, ngobrol dan menjawili ciblek simpanglima bersama sutadji calzoem bahri, ngakak-ngakak dengan goenawan muhammad, kho ping hoo, sapardi, ayu utami, soeman hs, sitok srengenge, nirwan dewanto, ratna sarumpaet, afrizal malna, dan puluhan pengarang lain, adalah kebahagiaan yang tak pernah kuduga mendatangiku. percakapan penuh kagum dengan mereka saat itulah yang membuatku bertekat untuk mulai mempunyai perpustakaan pribadi.
dan syukurlah mimpi kecil itu terwujud. pelan-pelan, kukumpulkan buku dari uang jajan dan honor menulis di majalan-majalah remaja. sehingga saat mengerjakan skripsi tak harus ke perpustakaan kampus atau daerah, dan tak meminjam buku dari teman. di kamar-bacaku semula tersimpan lengkap tulisan lenin dalam 32 buku. sayang, banjir yang kejam sewaktu aku ke luar kota, menyisakan 8 buku dari koleksi buku bertahun 60-an itu. banjir yang marah juga memakan koleksi majalan tempo-ku sejak tahun 1982, matra, jakarta-jakarta, dan tiara, hanya menyisakan beberapa saja. namun aku masih bersyukur, meski telah dilahapi banjir, kini nyris 2000 buku mendiami kamar-baca di rumahku. buku-buku yang tak pernah membuatku kesepian, tak pernah membuatku merasa kehilangan teman...
